Anda boleh keberatan, tulis Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir Majalah Tempo awal tahun 80an, masak Tuhan dirindukan dengan arak? Tetapi bagaimana mungkin anda bisa mengatur kerinduan orang lain?
Tak lama setelah Layla dan Majnun meninggal, ada seorang sufi bermimpi melihat Majnun hadir di hadapan Tuhan. Majnun terbelai di sisi-Nya dengan penuh kasih sayang dan kehangatan. Tuhan pun berkata kepada Majnun: ”Tidakkah engkau malu memanggil-manggilku dengan nama Layla, sesudah engkau meminum anggur Cinta-Ku?”
Membaca headline Radar Madiun dua hari yang lalu, tentang izin penggunaan mobil dinas untuk keperluan mudik lebaran para pejabat pemerintah daerah oleh Walikota Madiun, tiba-tiba saya teringat akan cerita Cak Nun ketika masih kabur kanginan, mengembara di negeri Belanda dan Amerika Serikat.
Ketika masih kuliah di STAN, saya sempat melihat rekaman debat Ahmad Deedat, seorang pendekar penyeru kebenaran dari Afrika Selatan. Bangga sekali melihatnya. Lebih bangga lagi ketika tahu Ahmad Deedat masih berdarah Indonesia. Kebetulan ia keturunan Syeh Yusuf, ulama dari Makasar yang dibuang Belanda ke Afrika Selatan.
Di belantara rimba raya kehidupan ini adakah kemungkinan manusia tidak tersesat?
Saya tidak bisa menjawabnya dengan pasti. Apalagi menjamin kebenaran jawaban itu. Karena sebenarnya, esensi tertinggi dari kehidupan di mana saya ikut melata di dalamnya adalah “kemungkinan”. Apa-apa yang kita yakini sebagai kebenaran sejatinya tak lebih dari sekedar klaim akan kebenaran. Warna merah kita katakan merah karena kita mengidentifikasi dan meyakininya sebagai merah. Di lain waktu, dengan merubah tata pencahayaan, dengan sudut pandang tak sama, dengan muatan maksud dan kepentingan berbeda bisa saja kita mengatakannya coklat. Pendek kata, selalu tersedia ruang kemungkinan dalam kehidupan. Ini adalah keniscayaan, termasuk dalam menyikapi keyakinan.





Komentar Terakhir