You are currently browsing the monthly archive for September 2008.
Membaca headline Radar Madiun dua hari yang lalu, tentang izin penggunaan mobil dinas untuk keperluan mudik lebaran para pejabat pemerintah daerah oleh Walikota Madiun, tiba-tiba saya teringat akan cerita Cak Nun ketika masih kabur kanginan, mengembara di negeri Belanda dan Amerika Serikat.
Ketika masih kuliah di STAN, saya sempat melihat rekaman debat Ahmad Deedat, seorang pendekar penyeru kebenaran dari Afrika Selatan. Bangga sekali melihatnya. Lebih bangga lagi ketika tahu Ahmad Deedat masih berdarah Indonesia. Kebetulan ia keturunan Syeh Yusuf, ulama dari Makasar yang dibuang Belanda ke Afrika Selatan.
Di belantara rimba raya kehidupan ini adakah kemungkinan manusia tidak tersesat?
Saya tidak bisa menjawabnya dengan pasti. Apalagi menjamin kebenaran jawaban itu. Karena sebenarnya, esensi tertinggi dari kehidupan di mana saya ikut melata di dalamnya adalah “kemungkinan”. Apa-apa yang kita yakini sebagai kebenaran sejatinya tak lebih dari sekedar klaim akan kebenaran. Warna merah kita katakan merah karena kita mengidentifikasi dan meyakininya sebagai merah. Di lain waktu, dengan merubah tata pencahayaan, dengan sudut pandang tak sama, dengan muatan maksud dan kepentingan berbeda bisa saja kita mengatakannya coklat. Pendek kata, selalu tersedia ruang kemungkinan dalam kehidupan. Ini adalah keniscayaan, termasuk dalam menyikapi keyakinan.
Begitulah cinta selalu menunjukkan kuasa. Hanya dengan seperempat jurus yang paling sederhana, Tumenggung Wiroguno menghabisi nyawa Pronocitro. Pemuda tanggung nan rupawan itu menyerah dalam pertarungan tak seimbang. Dia terkapar dengan sebilah keris menancap di dada.
Tiba-tiba saya jatuh cinta pada sufisme!
Lewat sufisme, saya menemukan “jalan” yang lebih memungkinkan untuk menggapai jawab atas pertanyaan-pertanyaan kehidupan setelah proses pencarian panjang dan berliku. Mungkin karena sufisme berpijak pada “kelenturan” dan bernapas “kesederhanaan”, sehingga tidak terjadi benturan-benturan dengan pemikiran-pemikiran konvensional saya. Setidaknya, dengan sufisme, saya memiliki waktu untuk jeda sesaat, istirah dari deru kebendaan, mengambil napas panjang, menengok ke belakang, untuk menghitung-hitung kemungkinan mengambil ancang-ancang melangkah jauh ke depan.



Komentar Terakhir