Membaca headline Radar Madiun dua hari yang lalu, tentang izin penggunaan mobil dinas untuk keperluan mudik lebaran para pejabat pemerintah daerah oleh Walikota Madiun, tiba-tiba saya teringat akan cerita Cak Nun ketika masih kabur kanginan, mengembara di negeri Belanda dan Amerika Serikat.
Suatu malam, di salah satu lorong gelap kota Brooklyn – kampung halaman Mike Tyson, Cak Nun dipalak seorang negro bertubuh tinggi besar. Menghadapi hal itu, Cak Nun tidak tinggal diam. Ia ambil beberapa buah silet cukur yang tersimpan di kantung tasnya. Di hadapan sang pemalak, Cak Nun mendadak mengkremus dan menelan silet-silet tajam itu. Atraksi sederhana yang ternyata membuat nyali pemalaknya menjadi kecut, dan memilih mundur teratur.
Lalu apa kaitan izin penggunaan mobil dinas oleh Walikota Madiun dengan cerita sederhana dari Cak Nun? Sebenarnya, saya hanya sekedar merekonstruksi ingatan akan maksud yang ingin disampaikan Cak Nun lewat kisahnya. Menurut Cak Nun, semakin tinggi kualitas kependekaran seseorang, maka ia tak lagi memerlukan persenjataan canggih untuk mempertahankan keselamatan dirinya. Semakin tinggi nilai-nilai kemanusiaan seseorang, maka ia tak memerlukan lagi fasilitas-fasilitas keduniawian untuk menunjang laku kehidupannya. Ia tak memerlukan dan tergantung pada jabatan-jabatan, kedudukan, pengakuan, dan segala kemudahan yang mengikutinya. Apalagi sekedar mobil dinas…
Kecuali, tentunya, bagi manusia-manusia kerdil yang tak malu berlalu lalang dengan mobil berplat merah di hari-hari kemenangan…
Wallohuallam…
Caruban, akhir Ramadhan 1429 H

Tinggalkan komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini