Tak lama setelah Layla dan Majnun meninggal, ada seorang sufi bermimpi melihat Majnun hadir di hadapan Tuhan. Majnun terbelai di sisi-Nya dengan penuh kasih sayang dan kehangatan. Tuhan pun berkata kepada Majnun: ”Tidakkah engkau malu memanggil-manggilku dengan nama Layla, sesudah engkau meminum anggur Cinta-Ku?”

Sang sufi terbangun dalam keadaan gelisah. Ia bertanya-tanya, jika Majnun diperlakukan dengan sangat baik dan penuh kasih oleh Tuhan, lantas apa yang terjadi pada Layla yang malang?

Begitu pikiran ini terlintas dalam benaknya, Tuhan segera mengilhamkan jawaban kepada sang sufi: ”Kedudukan Layla jauh lebih tinggi, sebab ia menyembunyikan segenap rahasia Cinta dalam dirinya sendiri.” (Layla dan Majnun, Hikam Izhami 169-170)