Anda boleh keberatan, tulis Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir Majalah Tempo awal tahun 80an, masak Tuhan dirindukan dengan arak? Tetapi bagaimana mungkin anda bisa mengatur kerinduan orang lain?

Di atas podium, di bawah sorot lampu panggung, di depan tatap mata ratusan pengunjung, Sutardji Calzoum Bachri menenggak sebotol arak. Selapis misai nyangkut di pinggir bibirnya. Dan mulailah ia bersajak:

aku telah menemukan jejak

aku telah mencapai jalan

tapi belum sampai tuhan…

Ia tenggak lagi, seteguk demi seteguk, lalu berucap:

berapa banyak abad lewat

berapa banyak isyarat dapat

berapa banyak jejak menapak

agar sampai padaMu…?

Sutardji – tulis Mas Goen – tidak sedang iseng. Penyair urakan itu tak larut dalam arus mode pasar budaya sebagaimana kini menggejala. Saat ini, kalau anda melihat Ayat-Ayat Cinta, jangan kemudian berpikir pendulum sejarah kebudayaan telah bergeser menuju substansi nilai-nilai dan kecerdasan. Anggap saja sekedar oase, karena kecenderungan lelaku budaya kita masih tetap tersesat di tengah gurun kebebalan transaksional. Semua – atau setidaknya sebagian besar – tersekat pada batas oportunisme pasar, tak lebih dari itu. Tetapi Tardji lain. Ia tak sedang bertransaksi dengan sajak. Ia begitu intens mencari, dan terus mencari. Ia merindu, dan terus merindu. Ia – di tahun-tahun itu – tengah menapaki seruas jalan temaram, lurus namun rapat kelokan, datar namun penuh turunan-tanjakan, untuk menuju ekstase cinta – diantaranya – dengan arak:

di lereng lereng

para peminum

mendaki gunung mabuk

kadang terpeleset

jatuh

dan mendaki lagi

memetik bulan

di puncak

Sutardji menemukan dirinya justru berada dalam dimensi kegandrungan liyan. Ia kepincut. Hatinya senantiasa bergetar setiap menyebut nama Tuhan – lalu menenggak arak. Anda boleh tak setuju, tetapi bagaimana mungkin anda mencampuri gelora hati orang lain? Sutardji – dengan kesadarannya – menemukan spiritualitas dengan arak. Ia memposisikan Tuhan bukan untuk ditakuti, tetapi di-rindu-dendam-i. Bukan untuk ditaati, tetapi di-curah-jiwa-i. Sebentuk maqam cinta menyimpang dari kelaziman.

Dalam jagat kesusastraan, ia digelari presiden penyair Indonesia. Julukan itu lahir tak jauh dari rutinitas mabuknya. Suatu hari di salah satu warung tenda di selasar Taman Ismail Marzuki, ia mabuk sampai tak sadarkan diri. Ketika bangun langsung berucap: Aku ini presiden puisi Indonesia! Lontaran iseng itu terus terngiang-ngiang sampai sekarang dan mengabadi dalam catatan sejarah.

Tardji – jiwa, raga, dan puisi-puisinya – mungkin sebentuk tafsir tersendiri akan kala dan mala. Ia pembongkar dan pembakar kemapanan estetis. Sebagaimana kredo puisinya yang hendak membebaskan kata dari makna, lalu mengembalikan ke wujud mantra, ia bebaskan pula dirinya dari kungkungan norma. Ia lepaskan, ia berantak-kan, ia ledakkan dengan cemooh, tawa, dan puisi – yang kadang mengejutkan.

Namun, dunia ternyata terus berputar. Entah bagaimana persisnya, tiba-tiba Tardji merasakan kesia-siaan. Ada arus besar, ombak kehampaan menerjang dirinya. Hingga ia menyesal:

Lihat
Pedang tobat ini menebas-nebas hati
dari masa lampau yang lalai dan sia-sia

Telah kulaksanakan puasa ramadhanku,
telah kutegakkan shalat malam
telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang
Telah kuhamparkan sajadah
Yang tak hanya nunu Ka’bah
tapi ikhlas mencapai hati dan darah
Dan di malam-malam Lailatul Qadar akupun menunggu
Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya…

Apakah Sutardji telah “sampai”? Apakah ia telah “ketemu”?

O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini ngebut di jalan lurus

Jangan kau depakkan lagi aku ke trotoir tempat usia

lalaiku menenggak arak di warung dunia

Kau biarkan aku menenggak marak cahayaMu di ujung usia

O usia lalai yang berkepanjangan
yang menyebabkan aku kini ngebut di jalan lurus Tuhan jangan Kau depakkan lagi aku di trotoir tempat dulu aku
menenggak arak di warung dunia

Maka pagi ini
Kukenakan zirah la ilaha illallah aku pakai sepatu siratal mustaqiem akupun lurus menuju lapangan tempat shalat ied
Aku bawa masjid dalam diriku Kuhamparkan di lapangan Kutegakkan shalat dan kurayakan kelahiran kembali di sana

Ia mengelak. Ia memang tak lagi menenggak arak, tapi ia mengaku tak ada yang berubah:

“Sekarang saya tak merasa perlu lagi minum bir sebelum naik panggung maka saya tak minum lagi. Dari dulu saya sudah relijius, sekarang juga. Dulu saya perlu minum pun untuk totalitas saja. Saat performance, penampilan itu harus berada di batas akal. Dulu saya perlu minum bir, sekarang tidak lagi, karena memang tak perlu. Tak bisa ditanya kenapa, karena itu pertanyaan untuk akal. Tapi masalah performance sudah di batas akal sehat.”

Kini Gus Mus menyebutnya sebagai Rumi Indonesia. Mungkin juga Attar, si penyebar wangi dunia. Karena ia seorang sufi, alasan Gus Mus.

Sutardji mungkin telah melalui suatu putaran masa, dan sampai pada titik di mana akan selalu bertaut “kerinduan” dengan “perjumpaan”, “cinta” dengan “kehakikian”. Mungkin ia memang harus menapaki “jalan arak” terlebih dulu, tetapi sebenarnya itu hanyalah percabangan sesaat dari keseluruhan peta “jalan cinta”.

Saya selalu ingat sebait puisinya:

Maka aku girang-girangkan hatiku
Aku bilang: Tardji rindu yang kau wudhukan setiap malam Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang Namun si
bandel Tardji ini sekali merindu Takkan pernah melupa Takkan kulupa janjiNya Bagi yang merindu insya-Allah kan
ada mustajab Cinta

Saya mencoba menyusuri jalan yang sama, dan mesti jatuh, kehilangan, dan kehilangan. Tetapi tak mengapa. Demi kekasih, adakah yang tak akan saya lakukan?

Yogyakarta, 4 November 2008